Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryJun 5, '10 1:21 AM
for everyone

 

 

Waktu selalu berjalan terasa lebih cepat dari kebutuhan kita. Rasanya baru kemarin aku menghadapi tangis istriku yang membuat aku gelagapan, karena bingung harus berbuat apa untuk mendiamkannya. Aku masih ingat betul bagaimana istriku pecah tangisnya ketika aku memutuskan untuk menikah lagi. Berat memang, tapi semua harus terjadi. Apa yang kulakukan bukanlah sesuatu yang dilarang oleh agama. Dan tak terasa, kini sudah setahun umur pernikahanku yang ke-dua.

Meskipun berat serasa mau kiamat, namun pada akhirnya, Wulan istriku bisa menerimanya. Kami bisa menjalani pernikahan ini dengan baik. Pertolongan Allah yang begitu banyak menghampiri tanpa kami sadari.

Sebagai seorang suami, meskipun tidak sama persis, aku dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Wulan. Rasanya memang tidak akan pernah ada wanita yang ikhlas untuk berbagi suami. Tidak akan ada wanita yang ikhlas apabila cinta dan perhatian suaminya terbagi dengan wanita lain. Dan itulah yang dirasakan Wulan. Namun berkat bekal tarbiyah yang dia miliki sejak kecil, akhirnya Wulanpun bisa ikhlas menerima kenyataan. Walau terkadang tangisnya kembali meledak. Apalagi kalau sedang mengalami masa-masa sensitif yang biasa dialami wanita pada umumnya. Ditambah lelah mengurus dua anak hasil pernikahan kami. Sebenarnya akupun tak tega jika melihat airmatanya tumpah. Teringat bagaimana perjuangannya pada saat melahirkan, pada saat menyambut dan melayaniku saat pulang kerja, meskipun dirinya sendiri telah merasakan kelelahan setelah bekerja seharian. Tapi, yaa Rabb, akupun sangat mencintai istri ke-duaku. Bukan karena kecantikannya, tapi karena kesolehan dan ketaataannya. Itulah yang membuat aku berani menikahinya. Dan terus-menerus berusaha meyakinkan Wulan, bahwa teman barunya itu bisa menjadi teman dalam berdakwahnya. Karena kami sama-sama aktivis dakwah.

Dan akhirnya Wulanpun bisa menerima takdirnya, yang harus berbagi suami dengan akhwat lain. Dan yang membuatku bangga, kini diantara keduanya telah terjalin sebuah keakraban dua orang sahabat. Dan itu semakin membuatku mencintai Wulan istriku. Aku bersyukur kepada Allah, karena telah mengkaruniaiku istri shalihah yang begitu penyabar dan lapang dada.

Rasa cintaku kepada Wulan semakin besar, ketika suatu hari, ia pergi untuk mengunjungi rumah salah seorang murid sekolahnya. Teguh.

Saat itu, sebuah ambulan memasuki halaman rumah Pak Dani, ayah Teguh. Rumah yang terletak di dekat rel kereta api, di daerah Jakarta. Dari dalam ambulan, beberapa orang petugas menurunkan sebuah kotak persegi panjang di lantai ruang tamu rumahnya. Tak seorangpun berani membuka peti tersebut. Tidak juga Pak Dani sendiri. Semua membisu. Hanya tetes-tetes airmata yang berjatuhan di pipi orang-orang yang merasa kehilangan.

Mungkin tidak akan menjadi masalah untuk membuka peti tersebut jika yang ada di dalamnya adalah jenazah utuh orang meninggal secara normal. Namun karena di dalam peti tersebut adalah sosok tubuh yang telah hancur, maka tak seorangpun yang berani membukanya. Tepatnya tidak tega.

“Semua ini gara-gara, Ayah!” tiba-tiba seorang gadis belia yang masih duduk di bangku SMP, histeris. Dia adalah kakak Teguh. “Kalau tidak gara-gara Ayah, tidak mungkin semua ini terjadi! Ayah kejam!”

Beberapa orang berusaha menenangkan gadis itu, namun ia terus berontak. Berteriak semaunya. Dan sebagian yang lainnya berusaha membawa Teguh, yang masih sekolah TK, menyingkir dari tempat itu. Anak kecil yang masih sangat polos, yang belum mampu memaknai apa yang sedang terjadi. Sementara si gadis terus berteriak menangisi sosok yang telah menjadi penghuni peti tersebut. Pemandanganpun semakin terasa menyayat. Hampir semua pelayat ikut menangis menyaksikan keadaan itu.

Semua ini ini bermula ketika Nurjanah, ibu dari si gadis dan si kecil, yang tidak lain adalah murid istriku, mempunyai penyakit yang aneh. Sudah dibawa berobat kemana-mana, namun belum ada yang mampu mengobati. Sejak tujuh bulan terakhir, Nurjanah tidak pernah bisa tidur setiap malam. Berteman gelisah disepanjang malam-malamnya.

Dan satu malam yang dingin, di atas jam dua belas malam, ketika anak-anak sudah tidur semua, seperti biasa, Nurjanah keluar untuk mencari udara. Seperti biasa pula, Pak Dani, suaminya dengan setia menemani. Namun entah mengapa, malam itu setelah beberapa jam menemani berjalan dan duduk-duduk, Pak Dani merasa kelelahan dan sangat mengantuk. Sehingga dia minta izin untuk pulang, tidur. Karena benar-benar sudah tidak kuat. Maka Nurjanahpun mengizinkan.

Dan ketika subuh tiba, Pak Dani bangun dalam keadaan terkejut. Istrinya belum ada di sampingnya. Kedua anaknya memanggil-manggil. Seketika Pak Dani keluar rumah untuk mencari istrinya.

Tempat utama yang ia tuju adalah yang biasa mereka duduki. Tak ditemukan. Di tempat yang biasa mereka lalui ketika berjalan-jalanpun tiada. Dan ketika matahari sudah mulai naik, bumi sudah kembali diceriakan oleh sinarnya, saat itulah beberapa orang berkerumun di sekitar rel kereta api. Ada tubuh hancur di sana.

Seketika, pagi yang cerah dan tenang berubah menjadi sontak dengan berita hilangnya Nurjanah dan diketemukannya tubuh hancur itu. Pak Dani, was-was, jangan-jangan itu adalah istrinya. Tapi jika benar itu tubuh istrinya, bagaimana dia bisa ada di sana? Sengaja? Tidak mungkin. Nurjanah adalah wanita shalihah yang taat beribadah. Taat mengunjungi pengajian ibu-ibu di majelis sekitarnya. Dia tidak mungkin melakukan kesengajaan untuk mencelakakan dirinya sendiri. Dia tidak mungkin bunuh diri. Begitu Pak Dani Berfikir.

Namun setelah diadakan penyelidikan, ternyata fakta menyatakan bahwa itu memang tubuh Nurjanah istrinya.

Innalillahiwainnailaihirojiuun…tak ada yang bisa dilakukan oleh Pak Dani. Kecuali pasrah menerima ketentuan ini. Nurjanah ditemukan telah hancur tak berbentuk terlindas kereta api. Ya, semua orang mengira Nurjanah tergilas kereta api karena sebuah kecelakaan. Namun Rabb… setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, ternyata wanita itu melakukannya dengan sengaja. Seorang saksi melihat Nurjanah dengan sengaja berjalan ke arah rel kereta api. Juga sebelum menjemput kematiannya, Nurjanah sempat melepas pakaiannya dan menaruhnya di satu tempat agar dikenali.

Muslimah yang taat beribadah itu, Muslimah yang aktif di majelis pengajian itu, meninggal dunia akibat bunuh diri. Naudzubillah.

Beberapa hari kemudian, ketika aku sedang beristirahat di salah satu ruang dalam rumahku, tiba-tiba Wulan istriku mendekat,

“Abi.” Panggilnya.

“Ya, Ummi?” aku menyambut.

“Setelah diselidiki,” ucapnya. Aku menunggu. “ternyata benar, Bi. Nurjanah bunuh diri karena stress, akibat suaminya menikah lagi.”

“Masya Allah,” gumamku. Seketika kupeluk tubuh Wulan. Erat. Erat sekali. Tubuhku gemetar. Aku menangis. Sebegitu dahsyatnya efek berpoligami bagi seorang wanita yang tidak siap. Sehingga wanita yang terkenal keshalihahannyapun bisa nekat melalukan tindakan yang paling dikutuk oleh Allah. Aku semakin erat memeluk tubuh istriku, dalam limpahan syukur yang membuncah, karena Allah telah mengkaruniakan seorang istri shalihah seperti Wulan. Wanita beriman yang taat kepada Allah.

Mungkin jika yang kunikahi lima tahun yang lalu bukan Wulan, entah apa yang akan terjadi sekarang. Lima tahun dia menjadi istriku, dia tak pernah protes ataupun mengeluh ketika kutinggal keluar hingga bermalam hitungannya. Demi dakwah, dia ikhlas menjaga kedua buah hati kami tanpa aku selalu bisa bersamanya. Tapi, aku masih juga kurang bersyukur dengan anugerah besar ini. Aku masih menyakiti hatinya dengan menikahi satu wanita lain, meskipun akhirnya dia meredhai. Rabb, ampuni aku…

Semoga ini bisa menjadi pelajaran dan kehati-hatian bagi para ikhwan yang hendak memilih pasangan hidup. Pilihlah wanita shalihah yang benar, agar jika suatu hari jika menghadapi masalah, apapun permasalahannya, dia akan tetap berpegang teguh pada tali-Nya. Mengembalikan semuanya hanya kepada-Nya.

      Terimakasih Rabb, Engkau telah memilihkanku seorang istri yang shalihah, lemah lembut dan penyabar seperti Wulan. Aku akan selalu menyayanginya. Selamanya…

Tulisan ini dalam rangka ikut kontes blog bersama Anazkia dan Denaihati.

 

 5 Juni 2010 (bakda Dzuhur)


11 CommentsChronological   Reverse   Threaded
hasnasyadza wrote on Jun 5, '10
subahanallah..

nice ukh:)
qqcakep wrote on Jun 5, '10
subahanallah..

nice ukh:)
Kok Subhanallah sih, Ukhty? Perasaan naudzubillah deh...
anazkia wrote on Jun 5, '10
Weleh.. iki cerita poligami tho...?? *no coment untuk kisahnya* coment untuk jalan ceritanya. hehehehe...

Makasih ya, Jeng. "Aku" nya di sini lelaki yah, jeng? siapa yah...??? *maaf, ini pertanyaan di luar kontes* hehehe...
anazkia wrote on Jun 5, '10
Link dah Anaz kirim ke juri :)
qqcakep wrote on Jun 5, '10
anazkia said
Weleh.. iki cerita poligami tho...?? *no coment untuk kisahnya* coment untuk jalan ceritanya. hehehehe...

Makasih ya, Jeng. "Aku" nya di sini lelaki yah, jeng? siapa yah...??? *maaf, ini pertanyaan di luar kontes* hehehe...
Wekekekeke... Hu'um. Intinya, keshalihahan seorang istri :D yang semakin dicintai oleh suaminya. Bikin cemburu banget. Hikz...
qqcakep wrote on Jun 5, '10
anazkia said
Link dah Anaz kirim ke juri :)
Makacih banyak, Sista... >:D
Comment deleted at the request of the author.
hasnasyadza wrote on Jun 6, '10
qqcakep said
Kok Subhanallah sih, Ukhty? Perasaan naudzubillah deh...
subhanallah untuk tulisan ukhty.

bukan untuk ceritanya:)
qqcakep wrote on Jun 6, '10
subhanallah untuk tulisan ukhty.

bukan untuk ceritanya:)
Oh, gitu ya? Hehe.. Afwan :)
zhaaid wrote on Jun 7, '10
Jika memang ada wanita spt wulan..... saya salut dgn kesabarannya. Pgn jg suatu saat bertemu dgn org spt wulan dan mendengar kisahnya lsg ttg kehidupannya....

Anyway... Saya jg ikutan lomba ini Mbak...spt biasa detik2 menjelang penutupan lomba saya posting tulisannya heuheuuhe... tau deh kayak gmn...
qqcakep wrote on Jun 7, '10
zhaaid said
Jika memang ada wanita spt wulan..... saya salut dgn kesabarannya. Pgn jg suatu saat bertemu dgn org spt wulan dan mendengar kisahnya lsg ttg kehidupannya....

Anyway... Saya jg ikutan lomba ini Mbak...spt biasa detik2 menjelang penutupan lomba saya posting tulisannya heuheuuhe... tau deh kayak gmn...
Tidak akan pernah ada wnaita seperti Wulan, Mbak. Adanya hanya satu, ya Wulan itu. Ida juga ingin belajar banyak dari beliau. Tentang kesabaran, keikhlasan, dan kelapangannya :) Subhanallah...
Add a Comment